Prolog : saya sudah mencoba untuk tidak menulis artikel terlebih dahulu setelah terjadinya kasus Regina dan resign-nya Nabilah. Tapi setelah Melody mengumumkan kelulusannya kemarin, saya jadi tak kuasa untuk menahan semua pikiran ini. Apa yang saya tulis di artikel ini apa yang saya pikirkan saat ini tentang JKT48.
Dalam satu minggu, kita dikejutkan dengan tiga kabar. Pertama adalah resign-nya Nabilah. Tanpa last stage apalagi konser, sebuah cara lulus yang sebenarnya tidak pantas untuk seorang member yang bahkan namanya lebih dikenal daripada JKT48 itu sendiri. Nabilah adalah ikon JKT48 Selain Haruka yang sudah lulus duluan, dan Melody yang nanti juga akan kita bahas. Seorang member yang biasanya pertama kali dikenal para wota ketika baru mengenal JKT48. Gadis yang kecantikannya diatas rata-rata member lain, dan juga pribadinya yang riang membuat orang-orang mudah jatuh hati. Nabilah adalah etalasenya JKT48.
Keluarnya Nabilah memang sudah lama diprediksi, karena sudah berbulan-bulan dia tidak aktif pada kegiatan JKT48 dengan alasan kesehatan dan pendidikan. Alasan resign-nya pun juga dua hal yang sama. Dan ternyata Nabilah sudah berpamitan dengan member lainnya (dilihat dari post foto di Instagramnya dan member lain). Jadi bisa dibilang, Nabilah tetap graduate dengan akhir yang baik, walaupun caranya kurang berkesan.
Kedua adalah kasus Regina. Regina adalah member generasi 5 yang mungkin belum banyak fans tahu, tapi kasusnya yang membuat fans kaget. Dia ‘tercyduk’membocorkan konflik internal JKT48 kepada seseorang yang diduga fansnya. Rekamannya tersebar sehingga membuat fans gempar. Buat saya, ini adalah kasus yang lebih besar daripada member ketahuan pacaran. Karena ini berbahaya untuk image JKT48. JKT48 beserta manajemen sangat dirugikan karena kasus ini. Jadi sudah sepantasnya Regina diberhentikan. Walaupun, menurut saya yang menyebarkan rekamannya juga harus diusut. Karena obrolan soal klien, rekan kerja, atau atasan sudah biasa dalam dunia kerja, yang tidak etis adalah kalau omongan itu bocor ke publik. Buat saya, Regina teledor karena telah menceritakan masalah internal JKT48 ke sembarang orang. Ini harus jadi pelajaran untuk semua member bahkan kita semua. Jangan sampai kita menebar aib tempat kerja kita sendiri.
Dan yang ketiga adalah Melody mengumumkan kelulusannya di konser Request Hour pada 4 November kemarin. Honestly, saya seperti tidak percaya saat menonton Melody mengumumkan kelulusannya. Kehilangan 2 member yang menjadi ikon JKT48 dalam waktu sesingkat ini? Rasanya hal ini terlalu sulit untuk diterima.
Memang dari segi umur, Melody sudah saatnya untuk lulus. Sebagai wanita dewasa berumur 25 tahun, sudah sepantasnya dia mencari kebahagiaan lain. Tapi saya rasa, momennya terlalu berat untuk JKT48. Kita sudah kehilangan Haruka tahun lalu, dan Veranda beberapa bulan lalu. Dan kini Nabilah dan Melody juga akan meninggalkan JKT48….belum lagi masalah lainnya seperti show theater yang mulai sepi sampai tim KIII harus ada 20 kali show gratis untuk mengembalikan euforia theater.
Saya jadi berpikir, bagaimana JKT48 nantinya?
Masalah besar dalam internal JKT48 sebenarnya sudah diketahui saat Jiro-san wafat dengan cara bunuh diri. Beritanya tersebar kemana-mana sampai orang awam pun berspekulasi tentang apa yang terjadi di JKT48. Jika seorang general manager sebuah perusahaan/brand besar bunuh diri karena tekanan pekerjaan, sudah pasti ada yang tidak beres di perusahaannya. Dan dia tidak kuat untuk menanggung beban itu, dan merasa gagal dalam mengemban tugasnya (salah satu alasan terbanyak orang jepang bunuh diri).
Jika kita ingat kematian tragis Jiro-san, maka melihat Melody – seorang theater general manager – memutuskan untuk lulus rasanya jadi wajar. Sudah syukur Melody tidak ikutan bunuh diri. Astagfirullah..
Kehilangan satu persatu ikonnya, membuat JKT48 harus bergerak cepat. JKT48 selama ini dikenal sebagai “Melody, Nabilah, Haruka dan teman-teman”. Kalau ketiganya sudah tidak ada, bagaimana cara JOT untuk mengembalikan lagi era keemasan ketiga ikon tersebut? Semoga JOT sudah mempersiapkannya.
Ini adalah tantangan bagi JKT48 untuk bisa bangkit setelah semua ini terjadi. Kita acungi jempol karena mereka sudah bertahan selama 6 tahun, sebuah angka yang cukup lama untuk sebuah grup musik apalagi yang dikira hanya musiman. Tapi kita tentu berharap JKT48 bisa bertahan lebih lama dari ini. Regenerasi, atau mungkin lebih tepatnya “kaderisasi” member sudah harus disiapkan untuk menggantikan mereka para ikon yang sudah dan akan pergi. Juga langkah-langkah nyata lainnya yang bisa membuat JKT48 bertahan. Sudah seharusnya JOT tidak lagi menjunjung tinggi profit, tapi bagaimana caranya agar JKT48 bisa terus bertahan dalam kondisi kritis sekarang ini.
Dengan segala masalah yang sudah terjadi ditambah ditinggal satu per satu para ikon nya, rasanya realistis jika kita dihadapkan pada dua pilihan : regenerasi atau bubar.
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 6 November 2017. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.