GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Aturan Gawai di Sekolah Harus Jelas, Bukan Sekadar Disita
Public Voice/Public Voice

Aturan Gawai di Sekolah Harus Jelas, Bukan Sekadar Disita

Mamen Public Voice

Pembatasan penggunaan gawai di sekolah adalah kebijakan yang masuk akal jika tujuannya menjaga konsentrasi belajar dan kesehatan murid. Namun kebijakan seperti ini mudah meleset apabila diterjemahkan hanya sebagai larangan membawa ponsel atau penyitaan massal tanpa aturan yang jelas.

Antara melaporkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusulkan penyesuaian tata tertib pembatasan gawai di sekolah melalui Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026. Menteri Abdul Mu’ti menegaskan kebijakan itu bukan pelarangan total, melainkan pembatasan penggunaan selama kegiatan belajar dan kegiatan satuan pendidikan, dengan ruang penggunaan untuk pembelajaran di bawah pengawasan pendidik.

Di lapangan, detail pelaksanaan akan menentukan apakah kebijakan ini melindungi murid atau justru menambah masalah baru. Sekolah perlu memiliki prosedur tertulis tentang kapan gawai dikumpulkan, di mana disimpan, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana pengecualian diberikan, dan kapan perangkat dikembalikan kepada murid.

Tanpa prosedur yang rapi, risiko kehilangan, konflik dengan orang tua, dan perlakuan tidak seragam antar kelas bisa muncul. Karena itu, kepala sekolah tidak cukup hanya mengumumkan aturan. Komite sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan murid perlu memahami alasan, batas, serta mekanisme pengawasan kebijakan tersebut.

Pembatasan juga tidak boleh memusuhi teknologi. Murid tetap perlu belajar memakai perangkat digital secara aman, produktif, dan bertanggung jawab. Prinsip seperti screen time, screen zone, dan screen break akan lebih berguna jika dipraktikkan bersama di rumah dan sekolah, bukan hanya dijadikan slogan.

Masalah utama pendidikan digital bukan sekadar ada atau tidaknya ponsel di tangan anak. Tantangannya adalah apakah sekolah mampu membangun kebiasaan belajar yang fokus, aman secara mental, dan tetap relevan dengan dunia yang semakin digital. Aturan gawai yang baik harus menjawab tiga hal sekaligus: disiplin, perlindungan, dan literasi.

Sumber: ANTARA News.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...