Artikel ini akan menguji ulang pandangan-pandangan yang menilai JKT48 di masa lalu lebih menyenangkan dibanding masa sekarang. Tidak hanya itu, artikel ini juga akan membandingkan JKT48 di masa lalu dan di masa sekarang. Uji dan analisis tersebut dibatasi melalui penggunaan data kicauan dari akun Twitter @officialJKT48. Saya memilih menggunakan data kicauan akun @officialJKT48 karena pertama, Twitter merupakan platform paling dominan yang digunakan fans JKT48 untuk terhubung dengan JKT48. Kedua, data kicauan ini diharapkan bisa memberikan gambaran kasar mengenai consumer experience dari fans JKT48 melalui interaksi mereka dengan akun @officialJKT48.
Melalui data kicauan @officialJKT48, saya akan menampilkan kicauan-kicauan seperti apa yang mendapatkan retweet, like, dan reply paling banyak. Temuan-temuan tersebut akan saya komparasi dan saya kaitkan dengan konteks ruang dan waktu agar pembaca bisa lebih memahami data-data tersebut.
Dalam mengolah data kicauan @officialJKT48, saya menggunakan bahasa pemograman Python dengan bantuan perpustakaan TwitterScraper, Pandas dan MatPlotLib. Untuk menarik data kicauan dari akun @officialJKT48, saya menggunakan TwitterScraper. Sebelumnya saya membagi penarikan data tersebut ke dalam dua dataframe, ‘JKT48 Pre-Reboost’ yang saya batasi pengambilan datanya dari Desember 2011, waktu di mana JKT48 pertama kali debut di media nasional, hingga April 2018, tepatnya sebelum pengumuman GM Melody terkait JKT48 Reboost. Dataframe kedua ‘JKT48 Post-Reboost’ saya ambil dari April 2018, tepatnya setelah pengumuman JKT48 Reboost, hingga Oktober 2019, tepatnya sebelum saya menulis artikel ini. Dari dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’ terkumpul 11.268 data kicauan, lalu dari dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ terkumpul 3.589 data kicauan.
Data Kicauan dari Masing-Masing Dataframe
table analisis tweet officialjkt48
Dua dataframe tersebut lalu saya rapikan kolom-kolomnya sehingga hanya menampilkan kolom; ‘likes’, ‘replies’, ‘retweets’, ‘timestamp’, ‘tweet_url’, ‘fullname’, dan ‘username’ dengan ‘text’ sebagai index-nya (lihat figur di atas). Kini saya akan menganalisis 10 kicauan dengan tingkat like, reply, dan retweet paling tinggi dari masing-masing dataframe.
10 kicauan dengan tingkat like paling tinggi dalam dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’ diisi oleh kicauan dari rentang waktu 2016-2018. Topik kicauan beragam, mulai dari pengumumuman penampilan terakhir Elaine Hartanto yang disukai 2.864 kali, lalu last-show Jessica Veranda yang disukai 3.338 kali, hingga topik beragam mengenai Melody Nurramdhani dengan kicauan tagar #JKT48MelodyDay lengkap dengan foto anggota Generasi 1 yang duduk di anjungan panggung menempati posisi paling tinggi dengan jumlah like sebanyak 3.489 kali.
? #JKT48MelodyDay pic.twitter.com/6zZINUhQjy
— JKT48 (@officialJKT48) March 24, 2018
https://platform.twitter.com/widgets.js
Lalu 10 kicauan dengan tingkat like paling tinggi dalam dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ diisi dengan topik yang tidak kalah beragam. Mulai dari ucapan selamat ulang tahun untuk Shania Gracia yang disukai 2.719 kali, ucapan bela sungkawa JKT48 terkait bencana tsunami di Banten dan Lampung yang disukai 2.794 kali, pengumuman Vanka sebagai pemeran utama dalam serial Suatu Kala: Timun Mas & Ijo yang disukai sebanyak 2.842 kali, video klip Everyday Kachuusa dance version yang disukai 2.918 kali, ucapan selamat ulang tahun untuk Shani Indira Natio yang disukai 3.626 kali, hingga kicauan yang paling tinggi, pengumuman singel orisinal yang disukai 4.128 kali. Menariknya, topik konser 48 Grup di Shanghai menjadi topik dengan kicauan paling banyak yakni empat kicauan, masing-masing memiliki rentang tingkat like dari 3.100-3.600.
TAHUN 2019 JKT48 AKAN MEMILIKI LAGU ORIGINAL!! INILAH YANG KITA TUNGGU SETELAH BERTAHUN-TAHUN!! ?#7thAnniversaryJKT48
— JKT48 (@officialJKT48) December 22, 2018
https://platform.twitter.com/widgets.js
Lanjut ke 10 kicauan dengan tingkat retweet paling tinggi dalam dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’ diisi dengan topik-topik yang berkutat perihal JKT48 di media nasional, penghargaan-penghargaan, audisi Generasi 3, Cindy Yuvia, dan Nabilah Ratna Ayu Azalia dengan rentang waktu 2013-2015. Kicauan penampilan live JKT48 di program acara Opera Van Java misalnya di-retweet 3.627 kali, lalu ucapan selamat ulang tahun kepada Cindy Yuvia yang ke-16 telah di-retweet sebanyak 3.629 kali, pengumuman penghargaan “Best Group” dan “Most Die Hard Fans” dari Yahoo OMG Awards di-retweet sebanyak 3.970 kali, pembukaan audisi Generasi 3 di-retweet sebanyak 4.174 kali, penghargaan “Duo/Grup Kolaborasi Terdahsyat” dari Dahsyatnya Awards 2014 di-retweet 4.671 kali, hingga ucapan selamat ulang tahun kepada Nabilah yang ke-14 menempati posisi paling tinggi dengan jumlah retweet sebanyak 6.350 kali.
Selamat ulang tahun yang ke-14, @nabilahJKT48! Semoga panjang umur, sehat, sukses dan semakin bersinar! (^_^) pic.twitter.com/I8KIkjl7E7
— JKT48 (@officialJKT48) November 11, 2013
https://platform.twitter.com/widgets.js
Sedangkan 10 kicauan dengan tingkat retweet paling tinggi dalam dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ berkutat dengan topik-topik seperti Cindy Yuvia, video klip, dan singel orisinil. Kemenangan Cindy Yuvia dalam Sousenkyo telah di-retweet sebanyak 1.311 kali, pengumuman kelulusannya pun di-retweet 1.346 kali. Dari lima kicauan terkait topik video klip; Junai Crescendo, UZA sebanyak dua kali, Everyday Kachuusa sebanyak dua kali, kicauan video klip Everyday Kachuusa dance version menjadi yang paling banyak di-retweet dengan 1.647 kali, namun masih kalah dari peringkat pertama yakni singel orisinil yang di-retweet sebanyak 2.737 kali. Menariknya kicauan mengenai keterlambatan video klip UZA juga mendapatkan tingkat retweet yang tinggi, yakni 1.412 kali.
[MV] UZA – JKT48 https://t.co/Q4k0o0abuT
Mohon maaf atas keterlambatannya karena telah terjadi kesalahan teknis.
— JKT48 (@officialJKT48) July 1, 2018
https://platform.twitter.com/widgets.js
Bagian terakhir adalah 10 kicauan dengan tingkat reply paling tinggi dalam dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’. Topik di dalamnya cukup beragam, mulai dari kicauan “Gunakan hak pilih Anda. Siapapun calonnya, suatu saat akan jadi mantan (?)” yang dibalas 443 kali, pengumuman Shania sebagai Kapten All Team dibalas 453 kali, foto kolase tiga kapten terdahulu; Haruka, Kinal, dan Shania dengan caption “listrik turun pun kita tetap bisa!” dibalas 461 kali, lalu pengumuman kelulusan Melody Nurramdhani di JKT48 Request Hour 2017 dibalas 545 kali, pengumuman kelulusan Devi Kinal Putri dibalas 555 kali, dan kicauan penampilan perdana JKT48 membawakan RIVER di TV nasional menjadi yang paling tinggi dengan tingkat balasan 921 kali.
pic.twitter.com/x8jQLqjvrV
— JKT48 (@officialJKT48) August 6, 2015
https://platform.twitter.com/widgets.js
Lalu 10 kicauan dengan tingkat reply paling tinggi dalam dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ juga diisi dengan topik yang beragam. Kicauan informasi mengenai pemberitahuan penurunan Eve Antoinette ke Academy Class A dibalas 408 kali, pengumuman kelulusan Shania dibalas 415 kali, sayembara kunjungan sekolah dari Tim T dan Calpico dibalas 458 kali, ucapan selamat ulang tahun sederhana dari manajemen ke Helisma Putri mendapat balasan 564 kali, pengumuman resign Ayu Safira Oktaviani dibalas 696 kali, pengumuman kelulusan Cindy Yuvia dibalas 794 kali, dan lagi pengumuman singel orisinil menjadi yang paling banyak dibalas, yakni 920 kali.
Analisis
Sebelum masuk ke bagian analisis, ada baiknya kita memahami logika antarmuka Twitter. Saya memulainya dari sebuah pertanyaan; “apa yang membuat pengguna memilih tombol retweet atau like?”
Dari antarmuka, fitur retweet dan like memiliki fungsi yang sedikit berbeda. Di dalam profil pengguna, kicauan dan retweet berada di dalam satu kolom, termasuk dengan reply. Sedangkan like memiliki kolomnya sendiri yang terpisah dari fitur-fitur lainnya. Hal tersebut menjadikan fitur like lebih personal, di mana kolom like sewaktu-waktu bisa diakses ulang – seperti album kenangan berisi hal-hal yang kita sukai. Sedangkan retweet, karena kolomnya bercampur dengan fitur-fitur lain, seringkali kita kesulitan untuk mengakses ulang kicauan-kicauan apa saja yang telah kita retweet. Maka jangan aneh jika muncul anggapan bahwa “me-retweet bukan berarti menyetujui kicauan tersebut”. Karena sampai sini, kita bisa memahami jika fungsi retweet hanya untuk membagikan kicauan saja, setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka.
Kita juga harus memahami jika fitur like bukan fitur yang langsung ada ketika Twitter berdiri. Maka jika saya membandingkan rata-rata like untuk dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’ hanya mencapai 325 sedangkan rata-rata like untuk dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ bisa mencapai dua kali lipatnya yakni 683, hal itu bisa disebabkan belum tercipta dan meratanya penggunaan fitur like untuk para fans JKT48. Analisis yang sama juga bisa digunakan untuk melihat mengapa tingkat like di dalam dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ begitu tinggi, jauh mengalahkan tingkat like ‘JKT48 Pre-Reboost’.
diagram like dan retweet dari dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’
Jika melihat grafik garis di atas yang berisi perbandingan jumlah like dan retweet dari dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’, praktis dari awal 2012 hingga awal 2013, jumlah like yang didapatkan masih sangat rendah, tanda jika di tahun tersebut, fitur like belum banyak digunakan oleh fans JKT48. Namun dari 2013 hingga 2018, jumlah like yang dikumpulkan terus mengalami peningkatan hingga bisa mencapai tingkat like 3.000++ per kicauan.
Jika dibandingkan dengan jumlah retweet di grafik yang sama, dari pertengahan 2012 hingga awal 2014, jumlah retweet mengalami pelonjakan sebelum akhirnya turun di 2015 lalu fluktuatif hingga 2018. Saya berpendapat, masa 2012-2014 merupakan masa di mana JKT48 masih menjadi emerging product yang menarik banyak orang dan pengiklan. Di masa itu juga, fitur like (sebelumnya favorite) belum diimplementasikan sehingga fans JKT48 masih sepenuhnya menggunakan fitur retweet untuk membagikan konten-konten terkait JKT48.
Terkait sentimen tingkat like di dalam dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’ dan ‘JKT48 Post-Reboost’, keduanya sama-sama memiliki sentimen positif. Dari ‘JKT48 Pre-Reboost’, kita bisa mengetahui seberapa penting figur Elaine, Melody dan Veranda bagi fans JKT48. Sedangkan di dalam dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ figur-figur penting tersebut digantikan oleh Shani dan Gracia. Kita juga menyaksikan bagaimana wacana singel orisinil merupakan wacana yang benar-benar menarik perhatian fans JKT48. Patut diingat jika wacana tersebut bukan wacana yang dimunculkan setelah JKT48 Reboost, tetapi merupakan wacana yang sudah dicanangkan sejak 2016 silam, sebelum JKT48 Reboost.
Sentimen positif lainnya adalah begitu besarnya apresiasi fans terhadap keterlibatan JKT48 di kancah internasional, yakni 48 Group Festival di Shanghai. Hal tersebut tentu tidak bisa terlepas dari munculnya banyak sister group JKT48 seperti MUM48, BNK48, TPE48, AKB48 Team SH, dan MNL48. Perkembangan ini tentu bisa dipandang baik terkait makin mengglobalnya pangsa pasar fans JKT48, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar Indonesia. Hal yang sayangnya sampai saat ini tidak terlalu disoroti oleh manajemen.
Sentimen tingkat retweet di dalam dua dataframe juga sama-sama positif. Dari 2012-2018, kita bisa melihat bagaimana fans banyak membagikan prestasi-prestasi JKT48, mulai dari penghargaan, hingga kesempatan bermain film yang dilakukan Nabilah. Tingginya apresiasi fans terhadap pengumuman audisi Generasi 3 juga bisa saya lihat sebagai penguat anggapan jika Generasi 3 merupakan generasi ‘emas’, atau generasi yang ditunggu-tunggu oleh fans JKT48. Temuan ini bisa juga menguatkan anggapan jika Generasi 2 merupakan generasi yang tidak terlalu populer, namun masuknya kicauan selamat ulang tahun untuk Cindy Yuvia yang di-retweet 3.629 kali bisa mematahkan argumen ini karena ternyata, sejak 2014 Cindy Yuvia sudah memiliki basis fans yang cukup signifikan dan kemudian bisa mengalahkan Shani dari Generasi 3 di JKT48 Sousenkyo 2018.
Cindy Yuvia masih mendapatkan apresiasinya dengan menjadi topik paling banyak di-retweet dalam ‘JKT48 Post-Reboost’. Sentimen positif juga muncul terkait dengan video klip yang diunggah manajemen pasca JKT48 Reboost. Kita mengetahui bagaimana di era JKT48 pra Reboost, video klip yang diunggah manajemen seringkali tidak membuat fans puas (baca: video klip RIVER). Setelah JKT48 Reboost, manajemen mulai berbenah dan video klip UZA, Everyday Kachuusha, dan High Tension relatif mampu memuaskan selera fans. Sedikit sentimen negatif dari ‘JKT48 Post-Reboost’ adalah keterlambatan peluncuran video klip UZA yang mendapatkan 1.412 kali retweet. Temuan ini bisa menjadi sinyalemen jika ketidakprofesionalan manajemen bisa membuat fans ‘gerah’.
diagram like dan retweet dari dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’
Sejenak melihat grafik garis di atas yang menampilkan perbandingan jumlah like dan retweet untuk dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’, kita bisa melihat sejak 2018, praktis jumlah retweet cenderung stagnan. Sedangkan untuk jumlah like, setelah sebelumnya di dataframe ‘JKT48 Pre-Reboost’ mengalami peningkatan, juga cenderung stagnan meski sejak Mei 2019, ada tren yang menunjukkan peningkatan. Hal yang patut digarisbawahi dari jumlah like di grafik garis tersebut adalah, semua kicauan yang diunggah oleh akun @officialJKT48 memiliki jumlah like di atas 100, lihat bagaimana grafik biru lebih mengambang dibandingkan grafik merah.
Temuan di atas bisa menjadi bukti yang menguatkan anggapan jika JKT48 telah melewati masa keemasannya. Temuan ini juga makin mempertegas penggunaan fitur like dibanding retweet yang jika saya lihat secara konteks ruang dan waktu, fans kini lebih mengedepankan sisi personalnya perihal mendukung JKT48, ketimbang membagikan berita-berita terkait JKT48. Alasannya bisa disebabkan JKT48 kini sudah tidak populer, atau stereotip fans JKT48 masih terlalu tebal untuk ditembus. Ironis memang, ketika akun JKT48 menjadi salah satu akun yang berpengaruh di jagat Twitter, ketika topik JKT48 merupakan alternative yang sering digunakan admin media sosial untuk meraih engagement, fansnya sendiri kini mulai menurunkan frekuensi menyebarkan kicauan JKT48 melalui fitur retweet.
grafik garis rata-rata like, reply, dan retweet
Mari secara seksama melihat perbandingan grafik garis rata-rata like, reply, dan retweet dari dua dataframe. Dari rata-rata like, ‘JKT48 Post-Reboost’ hampir mencapai 700, menang jauh dibanding rata-rata like ‘JKT48 Pre-Reboost’ yang hanya mencapai 300++. Menariknya, dari ‘JKT48 Pre-Reboost’ sampai ‘JKT48 Post-Reboost’, rata-rata jumlah reply setara. Berkebalikan dengan rata-rata like, rata-rata retweet ‘JKT48 Pre-Reboost’ menempati posisi tertinggi dengan jumlah 400. Sedangkan rata-rata retweet ‘JKT48 Post-Reboost’ hanya mencapai jumlah 200 kurang sedikit.
Untuk bagian reply, saya melihat sentimen yang beragam, mulai positif hingga negatif. Dalam ‘JKT48 Pre-Reboost’, sentimen positif masih terlihat melalui kicauan yang berkaitan dengan jajak pendapat, seperti jajak pendapat lagu favorit untuk JKT48 Request Hour 2016, lalu jajak pendapat mengenai penampilan pertama JKT48 membawakan RIVER di TV nasional. Pengumuman kelulusan Melody dan Kinal juga menjadi sentimen positif di mana banyak fans yang mengucapkan terima kasih atas kerja mereka selama menjadi anggota JKT48. Ada juga kicauan ‘receh’ yang direspon cukup beragam.
Kicauan cukup mengkhawatirkan muncul melalui pengumuman dibatalkannya pertunjukan JKT48 Theater karena alasan keamanan pada 14 Januari 2016. Kicauan yang dibalas 505 kali ini merupakan buntut dari Serangan Jakarta 2016, yakni serangkaian aksi terorisme yang berlokasi di Perempatan Sarinah, Jakarta. Temuan ini bisa menjadi sinyalemen jika keamanan kota bisa berdampak secara signifikan terhadap keberlangsungan hidup warganya. Sudah banyak pertunjukan JKT48 Theater yang dibatalkan, entah karena bencana alam atau aksi demonstrasi. Tetapi kicauan tersebut lah yang paling mengundang reaksi positif dari fans JKT48 atas keamanan mereka dan anggota JKT48 lainnya.
Untuk bagian ‘JKT48 Post-Reboost’, tren kicauannya juga tidak terlalu berbeda jauh. Tetapi jika ‘JKT48 Pre-Reboost’ ditandai dengan kicauan Serangan Jakarta 2016, ‘JKT48 Post-Reboost’ ditandai dengan dua kicauan pengunduran diri Ayu Safira Oktaviani dan penurunan Eve Antoinette ke Academy Class A. Ketidakjelasan mungkin menjadi alasan paling kuat mengapa kicauan mengenai Okta bisa mendapatkan jumlah balasan yang tinggi. Sedangkan untuk kicauan mengenai Eve, responnya cukup beragam, ada yang mendukung, ada juga yang tidak.
Dua temuan tersebut bisa menjadi sinyalemen jika ketidakmampuan manajemen untuk mengkomunikasikan permasalahan yang terjadi di tubuh JKT48 memiliki tingkat respon yang cukup tinggi di kalangan fans. Meski demikian secara keseluruhan, tren-tren negatif tersebut masih bisa ditutupi oleh haru-birunya pengumuman-pengumuman kelulusan anggota JKT48 yang banyak mendapatkan apresiasi.
Penutup
Di bagian sebelumnya saya sudah menampilkan dan membandingkan kicauan antara dataframe ‘JKT48 Post-Reboost’ dengan ‘JKT48 Pre-Reboost’, simpulan yang bisa diambil adalah stagnansi memang muncul di dalam JKT48 ‘Post-Reboost’. Stagnansi muncul bukan saja karena JKT48 telah melewati masa kejayaannya, stagnansi juga bisa disebabkan oleh pergeseran fitur retweet ke like sehingga tingkat engagement fans terbagi. Sampai saat ini, meski stagnan, kicauan-kicauan akun @officiaJKT48 masih menunjukkan tren positif. Namun jika tidak dibarengi dengan inovasi-inovasi serta keseriusan untuk mengelola JKT48 dengan lebih baik, bukan tidak mungkin tingkat kepercayaan fans bisa terus menurun.
Sebagai kritik dan pengembangan lebih lanjut, analisis di atas tidak mempertimbangkan peran bot dalam mengakses kicauan-kicauan akun @official JKT48. Dengan demikian, saya 100% tidak bisa memastikan seberapa organik tingkat engagement dari masing-masing kicauan yang telah saya tampilkan. Lalu analisis ini juga tidak bisa mengambil kicauan-kicauan yang telah dihapus oleh akun @officialJKT48, hal itu tentu dapat mendistorsi reliabilitas dari data-data yang telah ditampilkan. Yang terakhir mengenai fungsi like dan retweet yang menurut saya memang tumpang tindih. Jika dikatakan retweet lebih menyerupai fungsi share di Facebook, kicauan yang disukai juga bisa muncul di linimasa dan diakses secara realtime oleh pengguna yang mengikuti akun tersebut. Di sini like bisa menemukan fungsinya sebagai cara untuk berbagi. Pun kini adalah fitur bookmark yang lebih cocok digunakan sebagai fitur ‘album kenangan’ yang lebih personal dan privat.
Hal-hal yang sudah saya tulis di atas, setidaknya bisa menjadi pertimbangan teman-teman ketika membaca analisis yang sudah saya paparkan.
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 10 Oktober 2019. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.