GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Menanti Jebakan Devi di 2018
Hobbies/JKT48

Menanti Jebakan Devi di 2018

ragetegar

Jebakan adalah alat untuk memikat para musuh. Akan tetapi, hal yang dipikat tidak selamanya musuh apabila pemikatnya adalah gadis yang manis, lucu, dan juga menggemaskan. Jebakan akan berubah menjadi perangkap rindu yang menghantui sepanjang waktu.

Tagline “Jebak Aku, Devi!” sukses membawa pemiliknya meraih predikat senbatsu pertamanya di JKT48. Made Devi Ranita Ningtara menduduki peringkat ke-7 di sousenkyo single ke-17 JKT48 dengan 33.618 suara. Hal itu menjadi rekor peningkatan tertinggi dirinya sekaligus member lain pada gelaran sousenkyo karena pada perhelatan sebelumnya Devi tidak mendapatkan peringkat sama sekali.

Kesuksesan tersebut sebenarnya telah gadis asal Bali yang lahir 18 November 2000 silam itu awali pada penghujung tahun 2016. Berawal dari kemunculannya pada senbatsu single ke-15 Saikou ka yo, karier Devi seakan tidak pernah lepas dari posisi senbatsu. Devi selalu mengisi satu slot pada setiap single JKT48 setelahnya. Di setiap kesempatan, Devi juga kerap tampil sebagai center generasi 4 dan double center pada coupling single Sakura, Minna de Tabeta bersama Adhisty Zara.

Perjuangan Devi dalam merengkuh lesatan karier yang cemerlang di JKT48 dapat dibilang tidak praktis. Devi berusaha tampil apik di setiap kesempatannya sebagai trainee di setlist Te wo Tsunaginagara dan Theater no Megami. Ekspresi dan penghayatannya di unit song Kono Mune no Barcode merupakan salah satu yang mengesankan.

Devi terus berada di bawah pembayangan juniornya di generasi 5. Belum lagi sentimen generasi 4 sebagai “generasi pelengkap” membuat harapannya untuk naik kelas terus meretas. Akan tetapi, penantian berharga tersebut mengembangkan sayap kupu-kupu yang indah. Akhirnya, Devi dipromosikan ke tim T saat perombakan besar pada tanggal 11 September 2016 di Mae Shika Mukanee Handshake Festival.

Promosi ke tim T menjadi titik akselerasi Devi di JKT48. Kesempatan regularnya memanggung di beberapa setlist tim T, seperti Renai Kinshi Jourei, Boku no Taiyou, dan saat ini Dareka no Tame ni tidak ia sia-siakan. Tatapan mata sayu dibarengi dengan kemampuan menari yang mumpuni seolah menjadi gocekan yang mampu menjebak para penggemar untuk setidaknya menaruh satu momen di hatinya.

Devi kian melesat dengan mendapat kehormatan menjadi salah satu 48 World Senbatsu. Devi, bersama Ayana Shahab, Shani Indira, dan Shania Gracia, ambil bagian pada acara Song of Tokyo yang dihelat NHK World dalam rangka menyambut Olimpiade Tokyo pada 2020 di Jepang. Hal itu tentu menjadi jembatan emas baginya untuk “menjebak” lebih banyak lagi penggemar di luar Indonesia.

2018, Tahun Berat Devi di JKT48?

Tahun 2018 diprediksi menjadi ekstafet kesuksesan Devi di JKT48. Devi setidaknya akan bertahan di JKT48 mengingat “amanah” yang diembannya di 48 World Senbatsu. Devi juga diprediksi tetap “menguasai” satu posisi senbatsu, baik melalui manajemen maupun senbatsu. Namun demikian, ada beberapa faktor yang dapat menghambat karier Devi di JKT48 pada tahun 2018.

Seiring padatnya jadwal senbatsu dapat menurunkan performa Devi. Faktor kesehatan merupakan salah satu alasan beberapa member JKT48 mengundurkan diri di tengah lesatan kariernya yang menanjak, seperti Andela Yuwono dan Christi. Devirytales tentu tidak ingin kehilangan sosok idolanya begitu saja dengan alasan kesehatan.

Devi merupakan siswa berprestasi di sekolah. Hal itu ia buktikan dengan raihan peringkat 1 di momen pembagian rapor. Di tahun 2018, Devi akan menempuh tahap akhir di SMA yang mana memerlukan intensitas belajar lebih menjelang Ujian Nasional. Tidak dapat dipungkiri alasan pendidikan menjadi salah satu faktor terbesar penghambat karier member di JKT48. Belum lagi Devi merupakan siswa penjurusan IPA yang pasti memiliki proyeksi besar di jenjang perguruan tinggi. Jennifer Hanna dan Elaine Hartanto merupakan dua eks member JKT48 yang memilih pendidikan dibandingkan karier di JKT48. Akan tetapi, Devi dapat belajar dari Dwi “Uty” Bonita yang rela melepas kesempatan studi Pendidikan Dokter demi karier di JKT48 dan melanjutkan kuliah double degree.

Devi sebagai member muda memang terlihat penuh potensi. Dengan segala daya pikat dan jurus “mematikan”, ia patut diapresiasi lebih. Sayangnya, Devi jarang mendapatkan kesempatan tampil secara on air atau off air, baik individu maupun berpasangan. Kesempatannya untuk dikenal masyarakat awam dan mengembangkan diri di layar kaca pun kurang tersalurkan.

Karakter santun khas Bali yang dipunyai Devi selalu menjadi sayap lembut yang meneduhkan. Devi jarang tertimpa kasus yang menyudutkan dirinya. Setidaknya kondisi aman ini dapat menggiring opini yang baik terhadap Devi. Namun demikian, Devi layak berhati-hati dengan pergerakan penggemar yang sulit diprediksi belakangan ini.

Akhirnya, Devi harus segera berbenah menyambut tahun 2018 di JKT48. Akselerasi karier yang pesat dalam waktu singkat memicu pencarian baru yang harus digali oleh Devi. Statistik memang berpihak kepada Devi untuk terus melaju di sousenkyo. Namun demikian, performa panggung, hati para penggemar, dan kebutuhan dunia hiburan merupakan satuan tentatif yang harus dikejar, tidak dengan berpangku tangan.

Sumber Foto : Twitter

Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 1 Januari 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...