GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Kenapa Idola Rentan Dilecehkan?
Hobbies/JKT48

Kenapa Idola Rentan Dilecehkan?

ragetegar

Iriyama Anna meringis kesakitan, dari tangannya mengucur darah. Dia tidak menyangka, fans yang seharusnya memberi dukungan malah ingin merampas tangannya menggunakan gergaji. Sejak saat itu, industri idola AKB48 tidak pernah sama lagi. Pengamanan diperketat, barikade dipasang di antara panggung teater dan kursi penonton. Lebih banyak body-check, dan kegiatan handshake dibatasi meja dan diawasi lebih banyak lagi mata. Anggapan tentang idola yang tumbuh berkembang bersama para fans, sepertinya telah jauh panggang dari api.

Tragedi Iriyama Anna mengawali diskusi mengenai sosok idola, lebih umum lagi selebritis yang keberadaannya begitu rentan dilecehkan, baik fisik maupun verbal. Saya pikir ini bukan fenomena yang spesifik berada di suatu tempat, tetapi hampir semua selebritis berisiko untuk mengalami hal serupa.

Kita tentu telah diingatkan oleh cerita-cerita seperti John Lennon, frontman The Beatles yang harus meninggal di tangan fansnya sendiri. Lalu kita juga teringat Jonghyun, personel boyband Korea yang diberitakan bunuh diri karena depresi menghadapi ekspektasi dari para orang-orang di sekitar termasuk fansnya. Di Indonesia pun selebritis tidak bisa lepas dari perundungan. Terlebih di tengah masifnya perkembangan teknologi informasi, kejadian-kejadian menyedihkan tersebut bisa terjadi di mana saja, kapan saja.

Di JKT48, kita juga bisa menemukan hal yang sama. Mulai dari invasi privasi, perundungan siber, pelecehan verbal hingga pelecehan fisik menjadi hal-hal paling berpotensi untuk menimpa anggota JKT48. Fenomena tersebut, alih-alih dianggap sebagai gagal bekerjanya konsep JKT48 sebagai idola. Bagi saya malah menjadi tanda ‘terlalu’ berhasilnya konsep tersebut bekerja. Mari kita bahas satu persatu.

Pandangan yang mengaitkan fenomena di atas dengan kegagalan konsep idola sebenarnya sudah pernah didiskusikan di dalam fandom. Diskusi tersebut memisahkan ngidol menjadi dua bagian; support tulus dan ajang pencarian jodoh yang biasanya diawali dengan istilah populer, yakni ‘jopra-japri’. Pandangan ini berargumen jika bagian pertama adalah hal paling baik yang bisa terjadi di dalam fandom, yakni keadaan di mana fans mendukung idolanya tanpa pamrih, tanpa timbal balik, tulus lillahi ta’alla. Sebaliknya, bagian kedua menjadi tanda jika fans telah keluar batas, karena berusaha mengenal anggota JKT48 dari luar sistem yang telah disediakan, sampai ke tahap ingin memacari anggota tersebut.

Pandangan tersebut tentu bersifat oposisional, fans baik berarti support tulus, fans buruk berarti pemburu jopra-japri. Tapi apakah benar seperti itu? Untuk menelusuri fenomena ini lebih lanjut, saya membawa diskusi ke dalam konteks yang berbeda, yakni AKB48 di Jepang. Alasannya tentu saja karena JKT48 meminjam konsep idola dari kakaknya, AKB48.

Apakah semua fans AKB48 melakukan support tulus? Tidak juga. Saya teringat satu fenomena yang cukup menarik, yakni skandal Sashihara Rino. Dalam sebuah artikel yang ditulis AKB48WrapUp dan Tokyo Hive, Sasshi diberitakan pernah menjalani hubungan spesial dengan fansnya sendiri. Yang menarik adalah, menurut penuturan AKB48WrapUp yang dikutip dari Shukan Bunshun, Sasshi adalah pihak pertama yang mendekati fans tersebut. Tentu saja, artikel itu harus membuat Sasshi yang baru saja menduduki peringkat empat Sousenkyo, dipindah ke HKT48.

Terlepas dari validitas berita di atas, cerita-cerita tentang fans yang menjalani hubungan spesial dengan idolanya, di Jepang maupun di Indonesia, tidak bisa dikesampingkan. Fans hidup dalam sebuah ekspektasi jika, “mungkin saja pada akhirnya nanti, kita juga bisa menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita tersebut”. Sangat tidak elok jika menganggap fans yang memburu jopra-japri adalah fans yang dikategorikan ‘buruk’. Anggapan itu tentu harus didasari kondisi di mana praktik tersebut, dilakukan dalam kondisi mutual consent atau kesadaran bersama, tanpa ada paksaan dari masing-masing pihak.

Sampai sini, saya tidak sepakat dengan pandangan pertama. Menurut saya, fandom JKT48 adalah arena di mana semua orang memiliki pandangan berbeda. Dimana membawa tujuan masing-masing, lalu mendiskusikan dan memperdebatkan tujuan-tujuan tersebut, sembari mendudukkan identitas kultural yang mereka namakan sebagai “fans”. Maka alih-alih oposisional, fans yang support tulus, pemburu japri, pencari tubir, atau sekadar berjejaring mencari rekan kerja atau komunitas yang menyenangkan, sebaiknya dilihat hubungannya secara dialogis. Atau dalam hal ini, tujuan-tujuan tersebut memiliki posisi setara dan terkait satu sama lainnya.

Argumen tersebut membawa kita ke diskusi lebih lanjut terkait pandangan kedua; yakni ‘terlalu’ berhasilnya konsep idola bekerja.  Menurut Hiroshi Aoyagi, seorang antropolog yang meneliti industri idola Jepang circa 1990, idola memiliki fungsi sebagai quasi-companion, atau rekan yang seolah mendampingi orang-orang untuk berkembang menuju kedewasaan. Fungsi ini menjadi ruang interaktif di mana fans mendapatkan semangat dari idolanya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, dan idolanya mendapatkan dukungan dari fans untuk terus mengembangkan bakat-bakatnya.

Konsep tersebut diandaikan seperti teman selingkaran. Namun jika dalam konsep pertemanan tersebut orang-orang di dalamnya memiliki tendensi untuk saling mengecewakan, idola sama sekali tidak. Mereka menciptakan suasana intim di mana idola selalu tersenyum dan tidak pernah menolak siapapun yang mendekati. Tentu saja proses tersebut harus dilakukan dalam sistem yang telah disepakati secara profesional (teater, 2shot, HS event, media sosial).

Suasana intim inilah, yang menurut saya begitu problematis karena mengaburkan batasan antara profesionalitas dan privasi anggota JKT48. Hubungan fans-idolanya begitu intim sehingga; fans merasa berkewajiban untuk mengatur hidup idolanya, fans merasa memiliki idola tersebut, fans merasa berhak untuk terus disenangi oleh idola tersebut, dan fans merasa idola tersebut juga memiliki perasaan yang sama. Hal-hal tersebut, dalam wujud yang beragam sering kali berbenturan dengan kehidupan personal para anggota JKT48, dan ketika mereka merasa tidak nyaman dengan hal itu, pelecehan berpotensi muncul.

Saya teringat sebuah diskusi bersama kawan, saya bilang, “hubungan saya dengan anggota JKT48 praktis hanya terjadi di dalam teater dan tempat-tempat yang telah disepakati. Di luar tempat tersebut, saya berusaha untuk tidak mendekati mereka, saya tidak mengenal mereka. Di teater mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghibur saya, apakah di luar mereka juga harus menyenangkan hati saya?”

Saya adalah fans near,  alasan saya tersebut masuk akal karena tentu saja saya memiliki kapasitas lebih untuk bertemu kapan saja dengan idola saya di teater. Tetapi bagaimana dengan fans far, yang untuk datang ke teater saja membutuhkan modal dan usaha yang tidak sedikit. Ketika mereka berpapasan dengan idolanya di luar teater, lalu menyapa idola tersebut hanya karena mereka tidak ingin menyia-nyiakan pengalaman ngidol yang tidak akan datang setiap hari. Apakah pantas saya menuduh mereka karena bertindak berlebihan? Saya rasa tidak.

Fans memiliki kapasitasnya masing-masing ketika mengidolakan JKT48. Siapapun dia, bahkan fans-fans yang kemarin sempat ramai diperbincangkan karena bertindak berlebihan hingga membuat fans lain marah. Menurut saya, mereka tidak perlu diajarkan untuk menjadi fans yang bertindak normal dan semestinya. Apalagi melalui cara-cara perundungan atau kekerasan fisik yang sama sekali tidak bisa dibenarkan. Ini bukan masalah fans yang stres maupun tidak stres, ini masalah bagaimana kita, sesama manusia untuk saling menghargai, dan mendasari setiap tindakan melalui kesadaran bersama (mutual consent), di mana setiap orang ada dalam posisi yang setara dan menyadari posisi yang lain. Saya rasa ini bisa dilakukan.

Ketika bertemu idola di dalam kereta dan kamu ingin merekamnya sedang duduk termenung, kamu berpikir “dia keberatan enggak ya kalau aku rekam diam-diam?”. Ketika kamu ingin mengejek idola kamu karena kamu pikir itu bercandaan wajar yang sering kamu praktekkan bersama teman-teman, kamu berpikir “dia tersinggung enggak ya kalau aku bilang A dan B?”. Ketika kamu menyapanya di luar teater selepas pertunjukan dan dia terlihat lelah dan tidak begitu antusias bertemu denganmu, tidak perlu marah atau sakit hati, beri mereka ruang beristirahat, bagaimanapun mereka hanyalah manusia biasa.

Idola adalah patung berhala, sesuatu yang secara fisik terlihat, namun secara substansi kosong. Kekosongan itulah yang kita isi dengan segala hal yang membuat kita mau mengidolakan mereka. Namun, idola ini tidak dibuat dari batu, yang tahan hujan tahan panas bagaimanapun keadaannya. Idola ini diciptakan dari sesosok manusia yang bisa bernafas, merasakan senang, juga sedih.

Sumber Foto : Google

Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 8 Mei 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...