GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Jangan Malu Suka JKT48
Hobbies/JKT48

Jangan Malu Suka JKT48

ragetegar

Kinal, di usianya yang kemarin (5/1) menginjak 22 tahun, sering disebut-sebut sebagai salah satu member generasi pertama yang tingkat kedewasaannya bahkan melampaui member-member yang secara usia ada diatasnya. Pernah menjadi kapten, Kinal memang dikenal peduli terhadap member-member lain, tegas, dan tak jarang juga suka marah-marah.

Ketika perayaan ulang tahunnya di Teater JKT48, Kinal memberikan pidato yang bagi saya, cukup menarik. Tema besar pidato tersebut adalah “Jangan Malu Suka JKT48”. Bagi saya, diangkatnya topik ini berarti; bukan hanya fans saja yang menyadari adanya dominasi laten yang terjadi dalam tubuh fandom, tetapi pihak JKT48, juga menyadari jika permasalahan tersebut tidak terpecahkan, JKT48 tidak akan bisa berkembang dengan baik.

Tentu saja hal tersebut merupakan tren positif, setidaknya ada kesamaan pemikiran antara JKT48 dengan fansnya, soal bagaimana fandom bisa lebih berkembang lagi. Maka yang menjadi pertanyaan kini, “mengapa fans bisa malu mengungkapkan kejeketiannya?”.

Kalian mungkin tidak malu jika mengidolakan Oasis, The Beatles, Padi, atau Payung Teduh. Mereka sama-sama memiliki lagu yang asyik, ketenaran, dan cerita dibalik perjuangan mereka menuju tangga kesuksesan. Tetapi hal yang sama, tidak bisa digunakan untuk JKT48; karena apa yang saya bicarakan disini, bukan sekadar selera – lebih dari itu, selera adalah sebuah pembeda sosial.

Selera dalam pandangan Bourdieu adalah konstruksi, ia bisa menjadi modal kultural yang dapat diakumulasi agar penggunanya mendapatkan privelese atau status dalam sebuah hierarki sosial. Maka selera dalam perkembangannya, selalu menentukan bagaimana produk budaya yang diinginkan atau tidak, cara-cara menghadapi produk budaya tersebut, interpretasi, bahkan sampai pola konsumsi.

Sampai sini, saya tidak bisa bicara lagi selera sebagai sebuah kata yang egaliter. Jika menyukai Payung Teduh adalah sebuah selera, dengan demikian menyukai JKT48 pun disebut sebagai selera. Namun kenyataannya, diantara semua selera bermusik tersebut, JKT48 menduduki kasta paling rendah, mungkin setara dengan selera mengidolakan biduan dangdut koplo. Kok bisa?

Selera, jika saya melompat ke pemikiran Foucault – bekerja melalui mekanisme disiplin. Disiplin dalam pengertian Foucault, adalah praktik pembentukan manusia ideal yang sesuai dengan kerja suatu narasi dominan. Aparatusnya banyak, bisa sekolah, media massa, keluarga, lingkungan, negara, dan juga agama. Untuk kasus JKT48, aparatus tersebut mendominasi para fans yang menyukai JKT48, hingga mereka malu dan menyembunyikan status fansnya.

Mekanisme tersebut beragam; misal, mengidolakan JKT48 yang mana berisi perempuan-perempuan muda adalah aneh, Indonesia sebagai negara patriarki yang pernah merasakan rezim Orde Baru tentu menganggap idola adalah figur laki-laki yang dominan karismatik, dan tentu saja larger-than-life. Mekanisme lain bergerak melalui aparatus agama, misalnya laki-laki diwajibkan menjaga pandangannya terhadap aurat, maka menonton JKT48 tentu saja dianggap berdosa.

Dari segi budaya populer pun, JKT48 rentan tersubordinasi. Ariel Heryanto pernah menuliskan jika alasan tersebut sedikit banyak ditentukan oleh mesranya hubungan budaya populer dengan industri dalam mencari keuntungan. Buntutnya kalian mungkin pernah mendengar selentingan-selentingan macam ini;

“Nonton teater bayar 120 ribu?! Mau aja lu dikadal-kadalin sama industri!”

“Gesrek, lalu beli tiket HS 10 detik 30 ribu?! Mau aja lu dikadal-kadalin sama industri!”

“Voting buat senbatsu?! Mau aja lu dikadal-kadalin sama industri!” dan hal-hal lainnya.

Contoh tersebut dalam realitanya bisa kalian tengok melalui tubir edisi Gha*da beberapa bulan lalu. Yang patut disayangkan adalah, kami berdua sama-sama menggunakan kerangka pemikir yang sama, namun mantan member ini menggunakannya untuk menjelek-jelekkan kelompok yang sebenarnya, sudah jelek secara sosial.

Masih banyak mekanisme lain yang mungkin setelah kalian baca artikel ini, dapat terpikirkan. Menariknya soal mekanisme disiplin, yang Foucault pinjam dari konsep panoptik-nya Bentham – sifatnya sementara alias tidak selalu bekerja. Praktik pembentukan manusia ideal tidak pernah datang dari luar tubuh, praktik tersebut pada akhirnya bekerja melalui dalam tubuh. Secara sederhana, kalian mendisiplinkan tubuh kalian sendiri karena takut diawasi.

Contoh konkretnya adalah CCTV, ketika masuk kedalam lift atau sebuah ruangan, kalian menjaga diri karena kalian tahu sedang diawasi – meskipun kalian sebenarnya tidak tahu apakah CCTV tersebut berfungsi atau tidak. Inilah fungsi utama dari praktik pendisiplinan diri, aparatusnya bisa berhenti bekerja, namun perasaan diawasinya akan terus berjalan.

Praktik tersebut dalam hal JKT48, muncul melalui bentuk self denial. Bentuk penolakan tersebut, adalah mekanisme disiplin tubuh fans agar – yang dalam pandangan Foucault – bisa menjadi manusia ideal. Dan ini tidak bisa dihindarkan. Melalui artikel ini setidaknya menjadi jelas bahwasanya posisi fans JKT48 berada dalam kelompok subordinat.

Hidup didalam masyarakat modern-lanjut yang kompleks dan serba sistematis, kita memang tidak bisa lagi terhindar dari stigma dan laku dominasi. Yang paling penting kini, bukanlah terbebas dari bayang-bayang self denial atau rasa malu, tetapi berargumen bahwa hal tersebut merupakan bentuk negosiasi atau artikulasi identitas sebagai fans, juga sebagai makhluk sosial yang setara.

Bahan Bacaan:

Michel Foucault, Discipline and Punish

Pierre Bourdieu, Distinction: A Social Critique of The Judgment of Taste

Ariel Heryanto, Identitas dan Kenikmatan

Disclaimer: Artikel ini murni opini dimana argumen-argumen didalamnya belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Mohon pengertiannya.


Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 8 Januari 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...