Desember 2017 silam, publik penikmat sepakbola di Indonesia sempat dibuat bingung. Laga Real Madrid kontra Barcelona yang biasanya tayang malam suntuk di TV lokal, kali ini tayang lebih pagi. Laman Firstpost menyebutkan, keputusan tersebut menurut perwakilan La Liga merupakan cara mereka dalam menggaet audiens di Asia yang bisa mencapai 650 juta pasang mata. Laga hari itu pun harus dimulai tengah hari bolong waktu Spanyol, di mana Cristiano Ronaldo dkk harus rela bermain panas-panasan hingga digilas oleh Barcelona di kandang sendiri.
Saya masih ingat betul, bagaimana saya harus menyalakan alarm dan bangun dini hari hanya untuk menonton Liga Itali yang ketika itu masih bertajuk Centro Campo. Saya tidak pernah membayangkan, jika dulu masyarakat Asia yang harus rela mengikuti jadwal sepakbola Eropa, kini sepakbola Eropa lah yang mengikuti jadwal masyarakat Asia. Tidak bisa dipungkiri, semua bisa terjadi sedikit banyak karena kehadiran teknologi informasi yang kian cepat dan masif.
Fenomena lunchtime kick-off adalah satu dari banyaknya contoh yang menunjukkan bagaimana produk-produk hiburan dunia mulai bergerak ke arah globalisasi. Ditopang tekonologi informasi, mereka meruntuhkan batas-batas negara untuk mencari ceruk pasar dan keuntungan baru.
Kemarin (8/4), Melody sebagai GM JKT48 telah mengumumkan strategi dan sistem baru JKT48. Lewat tajuk “JKT48 RE:BOOST”, Melody memberikan beberapa poin penting terkait sistem JKT48 yang menurut saya bisa membuat hype fandom ini kembali bergelora. Tetapi saya tidak akan membahas lebih lanjut poin-poin tersebut. Yang ingin saya bahas kali ini adalah, ketika Melody dalam pengumumannya menekankan bagaimana pentingnya fans-far, saya rasa ada baiknya jika Melody, terlebih manajemen juga mulai memikirkan kehadiran fans dari luar Indonesia yang ada, namun belum difasilitasi.
Saya memiliki beberapa argumen yang mampu mendukung pernyataan saya di atas. Mari kita jabarkan satu persatu.
***
Di Asia Tenggara, Yasushi Akimoto (Aki-P) tercatat telah melahirkan tiga sister group AKB48; JKT48, BNK48, dan MNL48. Strategi waralaba tersebut, dalam gagasan yang paling sederhana adalah untuk membawa AKB48, jauh-jauh dari Jepang ke Asia Tenggara untuk para penonton lokal yang tidak memiliki kemampuan untuk menyaksikan AKB48 di Jepang.
Jika dibandingkan dengan grup idola Korea yang lebih luwes dalam menggunakan copyright – konten-konten video yang diunggah fans dan media lokal, lalu tersebar di Youtube sedikit banyak memang menguntungkan fans K-Pop luar Korea – grup idola J-Pop (salah satunya AKB48) dikenal karena sepak terjangnya membantai konten-konten fans di Youtube. Sederhananya, J-Pop memiliki sikap lebih ketat terkait copyright. Alih-alih mengunggah MV lengkap, mereka lebih suka mengunggah teaser dan mendorong para fans untuk membeli versi fisiknya. Maka alih-alih membuka akses informasi terkait AKB48 kepada fans luar Jepang, Aki-P lebih suka membawa sistem tersebut ke suatu negara dan membuat sister group nya.
Bisa dibilang, JKT48, BNK48, dan MNL48 adalah AKB48 dengan kearifan lokal. Strategi yang biasa disebut glokalisasi ini mengingatkan saya kepada penggunaan menu nasi di McD atau KFC, sesuatu yang sebenarnya tidak akan kita temui di Amerika sana. Namun tidak hanya memudahkan fans overseas untuk bertemu dengan AKB48, versi lokal AKB48 sebenarnya juga bisa menjadi medium promosi dua arah.
Memang, salah satu alasan Aki-P untuk membuat JKT48 adalah karena di Indonesia telah tercipta basis penggemar AKB48 yang lumayan kuat. Logikanya jika mereka suka AKB48, JKT48 pun mereka akan suka. Namun lebih dari itu, JKT48 bisa juga dipakai Aki-P untuk memperkenalkan AKB48 kepada masyarakat Indonesia. Saya adalah salah satunya, orang yang mengetahui JKT48 terlebih dahulu sebelum AKB48.
Melalui teknologi informasi, saya bisa mengikuti cerita dan perjuangan anggota-anggota AKB48 dengan dimediasi oleh video-video yang telah dialih bahasakan dan diunggah ke internet (kemampuan bahasa Jepang saya praktis nol). Bagi saya, penggemar yang tidak memiliki kemampuan berbahasa Jepang terlebih mengakses konten-konten tersebut secara legal, video-video terkait AKB48 memang begitu sulit didapatkan. Meski begitu, toh pada akhirnya saya tetap bisa ikut gembira karena AKB48 berhasil menghelat konser di Tokyo Dome 2012 silam, atau ikut menangis melihat pecahnya Tim 4 orisinil sebelum grand reshuffle.
Kini tidak hanya AKB48 dan JKT48, di skup Asia Tenggara, Aki-P juga telah melahirkan BNK48 dan MNL48. Bagi saya ini tidak bisa disebut lagi media promosi dua-arah; tetapi sudah menjadi media promosi beragam-arah.
Kalian masih ingat dengan pengumuman akan berangkatnya beberapa anggota Tim K3 ke Thailand akhir April nanti? Di media sosial ramai perbincangan jika Yupi dan Shani adalah anggota yang paling ditunggu-tunggu para fans 48 di Thailand. Saya tidak tahu apa alasan mereka menyukai Yupi. Tetapi yang bisa saya tarik melalui hal tersebut adalah, semakin banyak penggemar JKT48 di luar Indonesia.
Medium promosi beragam-arah tercipta ketika Aki-P menciptakan grup-grup tersebut di berbagai negara. Dibantu dengan teknologi internet, tercipta koneksi bolak-balik diantara masing-masing fandom tanpa memperdulikan batas-batas antar negara. Artinya, bakal ada fans BNK48 dari Filipina, fans JKT48 dari Thailand, dan fans MNL48 dari Indonesia, vice versa.
Aki-P telah menciptakan suprastruktur dimana setiap grup di regional Asia Tenggara bisa bersaing dengan bebas untuk mencari fans-fans baru. Sampai sini, fans tidak bisa lagi diidentikkan hanya melalui batas-batas negara saja. Fans melalui teknologi informasi kini adalah bagian dari masyarakat global yang mungkin saja sudah tidak bisa lagi dibedakan asal mula dan preferensinya. Sikap ini menurut saya juga sesuai dengan tren geopolitik Asia Tenggara. Wabil khusus Wawasan ASEAN 2020 yang salah satunya adalah menuntut terciptanya area perdagangan bebas.
***
Lalu, apa saja yang bisa JKT48 lakukan untuk memfasilitasi pergeseran tren tersebut? Menurut saya, fasilitas ini harus dibuat dalam pandangan untuk membuka akses informasi seluas dan sebebas-bebasnya bagi fans luar Indonesia. Berikut hal-hal yang terpikirkan oleh saya;
Situs resmi JKT48. Menurut saya ini adalah hal paling penting yang harus diubah terlebih dahulu. Sederhana, saran saya sebaiknya manajemen tidak hanya memasukkan mode bahasa Indonesia dan Jepang saja, tetapi juga Inggris dalam situs tersebut. Tentu saja hal ini akan memudahkan fans-fans overseas untuk mengakses situs JKT48.
Subtitle. Sepele, tetapi menurut saya penggunaan subtitle berbahasa Inggris dalam setiap konten yang diunggah JKT48 di Youtube itu penting. Mungkin saja banyak fans overseas yang ingin mengikuti cerita tentang JKT48 di Youtube, tetapi terkendala bahasa. Saya rasa bahasa Inggris, meski belum mewakilkan masyarakat Asia Tenggara, tetapi setidaknya bisa diterima.
Fans Indonesia tentu saja juga bisa turut serta. Misalnya saja dengan membuat fansub berbahasa Inggris untuk konten-konten terkait JKT48 yang tersebar di Youtube. Kontennya bisa beragam, mulai dari pertunjukan off-air, acara-acara televisi, hingga liputan media.
***
Pada akhirnya, esai ini ditulis tanpa didukung oleh data-data yang sahih. Argumentasi-argumentasi di dalamnya hanya dibarengi oleh pendapat dan pengamatan saya. Sejatinya, ini hanya sekadar saran agar JKT48 bisa maju dan lebih berkembang lagi.
Tentu saya juga tidak bisa mengesampingkan isu-isu yang masih menyelimuti Indonesia. Mulai dari ketimpangan infrastruktur (pusat-periferi), kualitas SDM, hingga yang paling menakutkan adalah sentimen nasionalis (tenaga kerja asing-aseng) yang menunjukkan betapa Indonesia secara manusia belum bisa bersaing di kancah ASEAN, terlebih global.
Tetapi saya bisa yakinkan jika dunia memang sedang menyempit dan globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Terkait grup 48, kita tidak bisa pungkiri jika JKT48 adalah sister group pertama luar Jepang yang dibidani Aki-P. Seperti fans JKT48 yang selalu memakai AKB48 sebagai benchmark (pembanding), JKT48 kemungkinan besar juga akan dijadikan benchmark oleh fans grup-grup overseas yang lahir belakangan. Dan ketika itu terjadi, saya harap akses informasi untuk mereka sudah terbuka selebar-lebarnya. Dan mungkin bisa menjaring fans-fans tersebut untuk mengidolakan JKT48 juga.
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 12 April 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.