Setiap kedatangan generasi baru di JKT48 selalu membawa perasaan menggebu. Hasrat ingin mencintai datang, bertepuk dengan segala rasa bersalah kepada kesayangan pun melanda. Pikiran terkadang ada kalanya masih menerima ekspresi polos, tabrakan lucu, dan percakapan malu sang penampil baru. Namun demikian, semuanya terasa paradoks ketika menyaksikan pesona Erika Ebisawa Kuswan.
Kehadirannya mengenyangkan, menjadi sumber energi bagi hari-hari sepi yang lelah menanti arti. Ia manis dan kawaii dengan mata sipit serta senyum lebar berkawat gigi sebaris rapi.
Erika sebetulnya bukanlah sosok baru di JKT48. Ia merupakan idola masa lalu yang pulang ke masa depan. Gadis kelahiran 15 Oktober 1999 ini pernah mengikuti audisi JKT48 generasi 4 dan dekat dengan Zahra Yuriva Dermawan. Akan tetapi, kala itu ia harus kembali ke Jepang dan merelakan mimpinya untuk bergabung dengan overseas sister group pertama AKB48 itu.
Dara berzodiak Libra ini memiliki keturunan Jepang dari sang ibunda. Erika menghabiskan masa kecilnya hingga SMA di Negeri Sakura. Ia tetap menempuh pendidikan di sekolah khusus orang Indonesia. Meskipun begitu, Erika mengaku sempat tidak mampu berbicara dengan bahasa Indonesia.
Semasa remaja tanggung, Erika telah menyukai AKB48. Ia dan temannya lalu menggandrungi JKT48 ketika pertama kali muncul pada tahun 2011. Mulai sejak saat itu, Erika mulai memendam asa untuk menjadi idola di Jakarta.
Ada kabar mengatakan bahwa Erika pernah mengikuti audisi HKT48. Akan tetapi, gadis yang hobi menggambar komik ini membantah isu tersebut. Ia bahkan pernah dikira sebagai anggota JKT48 saat berkunjung ke AKB48 Theater & Cafe. Situs JKT48Stuff pernah membahas peristiwa tersebut pada tahun 2013.
Erika akhirnya terpilih sebagai anggota JKT48 generasi 6 dan masuk ke Academy Class B pada 15 April 2018. Ia menjadi peserta tertua di generasinya dengan rata-rata usia anggota lain berumur 16 tahun. Usai naik tingkat ke Academy Class A pada 10 Juni 2018, gadis yang akrab disapa Erika-chan (Kacang) itu menjalani debut di pertunjukan teater Tadaima Renaichuu pada 2 Agustus 2018 dan membawakan unit song 7ji 12fun no Hatsukoi. Ia tercatat sejak 22 September 2018 telah tampil sebanyak 10 pertunjukan teater dan 14 penampilan zenza girls.
Di media sosial, Erika aktif mengisahkan pengalaman hidupnya semasa di Jepang. Ia kerap menulis twit dengan huruf Jepang seraya menjelaskan beberapa kalimat sederhana dalam struktur bahasanya. Selain itu, gadis bertipe darah A ini sering membagi cerita mengenai grup musik Jepang favoritnya, seperti Ikimonogakari, LiSA, E-girls, Backnumber, Sekai no Owari, Supercell, dan Radwimps. Tak khayal, ia mampu dengan mudah menarik arus penggemar dari kalangan otaku yang memiliki minat terhadap budaya Jepang. Selain itu, Erika memang sejak awal telah memiliki niat untuk menarik antusiasme para penggemar asing agar JKT48 semakin terkenal di luar negeri, termasuk di Jepang.
“Motivasi aku ikut JKT48 itu karena memang sudah dari kecil ingin banget jadi (member) JKT48. Sebelumnya aku suka AKB48 juga, suka idol, memang hobi nyanyi, hobi menari. Jadi sudah dari kecil cita-cita aku ingin jadi (member) JKT48,” ujar Erika dalam video profilnya di Youtube.
“Karena aku bisa berbahasa Jepang, aku ingin JKT48 fans Jepangnya juga tambah, jadi nggak cuma di Indonesia saja. JKT48 juga makin terkenal di Jepang.”
Sosok Dewasa, Ilusi Akselerasi, dan Ekspektasi Tinggi
Erika merupakan figur orangtua di JKT48 generasi 6. Bukan hanya sekadar tetua, ia punya rasa untuk mau menjadi seorang mama. Tinggal seruangan dengan Riska Amelia Putri, indekos Erika bak basecamp bagi anak-anak generasi 6. Ia mampu mendekatkan gap di antara rekan-rekannya yang memiliki berbagai latar belakang dan beragam tujuan di JKT48.
Gadis bertinggi 155 cm ini memang mempunyai sisi ambius. Namun demikian, Erika selalu merangkul teman-temannya untuk maju secara serempak. Hal itu ia buktikan melalui twit semangat dan dukungan serta foto atau video kehebohan bersama-sama. Perlahan tapi pasti, para anggota JKT48 generasi 6 kini mulai menjalani debut di pertunjukan teater tim J, KIII, dan T.
Kandiya Rafa Maulidita menjalani debut terlebih dahulu sebagai anggota JKT48 generasi 6. Akan tetapi, Erika disebut-sebut memiliki penampilan paling memukau di antara peserta debutan lainnya. Sejumlah penonton yang menyaksikan shonichi gadis berkawat gigi itu menilai bahwa kemampuan Erika hampir setara dengan anggota tim inti. Beberapa anggota JKT48 tim J pun turut mengamini perihal tersebut.
Apabila diamati dengan saksama, Erika memiliki 2 ekspresi dasar di setiap penampilannya, yakni senyum lebar dengan mulut terbuka dan ekspresi mengembungkan pipi. Warna gradasi wajahnya tidak jauh dari kedua pakem tersebut. Hal itu sangat menunjang aksi panggungnya saat membawakan lagu bertema ceria.
Di satu sisi, gadis berusia 18 tahun ini kurang mempunyai perbendaharaan raut muka yang kaya di lagu up beat bernuansa garang. Ia seolah kesulitan dalam menempatkan ekspresi sangar dan marah. Erika sungguh terlalu baik untuk menjadi jahat. Masalah tersebut barangkali dipengaruhi oleh faktor kawat gigi dan bawaan bentuk alisnya. Sementara dari segi dance, Erika hanya masih enggan mengeluarkan improvisasi gerakan yang natural selain kepada sesama anggota JKT48 generasi 6.
Sesi MC Erika juga seringkali terlalu menonjolkan persona dara yang lihai dalam berbahasa Jepang. Hal itu bisa mengekang keterampilan wicaranya dalam ruang lingkup yang sempit. Ia seperti memiliki jati diri yang berbeda saat sepanggung dengan seniornya dibanding ketika tampil di pertunjukan proyek JKT48 Academy Class A bersama anggota generasi 6 lainnya.
Erika memang memiliki akselerasi aksi yang progresif. Selain memukau di pertunjukan teater, ia juga pandai dalam menyusun metafora perjuangannya dalam video kampanye sousenkyo senbatsu single ke-20 JKT48 di Youtube. Di tahun pertamanya mengikuti sousenkyo, Erika mengusung tema “Onigiri”.
“Onigiri ini mirip hubungan kita. Di dalamnya ada lauk yang tadinya hanya lauk biasa ketika dikelilingi dan dibungkus butiran nasi bisa menjadi sebuah onigiri yang utuh. Sama seperti aku yang tadinya bukan siapa-siapa, ketika didukung oleh kalian, bisa menjadi diri aku yang lebih hebat. Dan, enak atau nggaknya onigiri itu tergantung bagaimana kita membuatnya. Aku juga sama, akan menjadi diri aku yang sehebat apa tergantung bagaimana aku berusaha dan bagaimana kalian mendukung aku,” ungkap Erika.
Sejauh ini, 5 sesi handshake Erika di Everyday, Kachuusha/UZA Handshake Festival telah terjual habis. Ia sanggup melampaui jumlah sesi anggota JKT48 generasi 6 sepantarannya bahkan beberapa personel tim inti lawas lainnya. Pencapaian itu tentu didukung oleh basis penggemar yang kompak. Erikania hadir mendukung sang idola dengan konsep desain grafis mumpuni dan barisan artileri yang siap menemani oshi sedari dini.
Namun demikian, Erika diprediksi tidak akan menembus jajaran senbatsu atau undergirls tahun ini dengan status trainee. Masih ada cukup waktu baginya untuk menorehkan grafik meninggi di lain hari. Ia setidaknya harus mengejar misi pribadi untuk masuk ke tim terlebih dahulu. Setelah itu, Erika boleh lebih banyak berbicara terkait target ambisius berikutnya.
Bukan apa-apa, progresivitas yang melesat tajam tentu menuntut ekspektasi tinggi. Jika tidak mampu mengatasinya, Erika akan mengalami jet lag yang begitu drastis. Terlebih, ia masih harus membagi waktu kuliah di salah satu jurusan favorit dari universitas terbaik di Indonesia saat ini.
Erika dapat berkaca pada pencapaian mahatinggi Andela Yuwono. Popularitas yang meningkat dalam waktu singkat akan membutuhkan pengorbanan yang tidak berakal. Adhisty Zara merupakan salah satu contoh anggota JKT48 yang masih bertahan sedari dipromosikan dengan cepat oleh manajemen JKT48 Operation Team.
Di sisi lain, gadis keturunan Jepang ini berpeluang menjadi ace generasi 6 untuk tampil di senbatsu JKT48 berikutnya. Erika dapat diplot untuk menggantikan posisi Made Devi Ranita Ningtara yang memutuskan lulus di akhir tahun 2018. Selain itu, ia juga berpotensi mengisi center di generasinya, walaupun sebenarnya anggota yang dituakan jarang mengisi posisi emas tersebut.
Erika terlihat memiliki akselerasi penampilan yang melesat tajam. Akan tetapi, kesabaran akan lebih berbuah manis ketimbang emosi dalam menuntaskan hasrat ambisi. Onigiri rasa kita bersama harus diracik dengan komposisi dan cita rasa yang diolah berulang kali. Jangan sampai Erika dan lidahnya hanya mengecap ilusi akselerasi yang sebenarnya hanya fatamorgana belaka.
Image : Twitter
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 26 September 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.