GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Skrining TBC di Lapas Jangan Berhenti di Angka
Public Voice/Public Voice

Skrining TBC di Lapas Jangan Berhenti di Angka

Mamen Public Voice

Pemerintah menggencarkan skrining tuberkulosis atau TBC di lingkungan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan. Laporan Antara pada 2 Juli 2026 menyoroti upaya deteksi dini di ruang tertutup yang memang memiliki risiko penularan lebih tinggi dibanding banyak lingkungan publik lain.

Public Voice melihat skrining ini sebagai langkah yang perlu, tetapi belum cukup. Di lapas, isu kesehatan tidak berdiri sendiri. Kepadatan hunian, sirkulasi udara, akses layanan medis, dan keterlambatan pengobatan dapat membuat penyakit menular lebih sulit dikendalikan. Karena itu, angka skrining hanya menjadi pintu masuk, bukan ukuran keberhasilan akhir.

Yang perlu dipastikan adalah rantai tindak lanjut setelah seseorang terdeteksi. Pemerintah harus jelas soal akses obat, pemantauan kepatuhan minum obat, pelacakan kontak, serta perlindungan bagi warga binaan dan petugas lapas. Tanpa mekanisme tersebut, skrining berisiko berhenti sebagai kampanye kesehatan yang terlihat aktif tetapi tidak menyelesaikan sumber masalah.

Kesehatan di lapas juga merupakan ukuran kualitas tata kelola negara. Warga binaan tetap memiliki hak dasar atas layanan kesehatan yang layak. Jika negara mampu mengendalikan TBC di ruang paling padat dan rentan, itu bukan hanya capaian medis, tetapi juga bukti bahwa sistem pemasyarakatan mulai memperlakukan kesehatan publik sebagai tanggung jawab serius.

Ke depan, data skrining TBC di lapas sebaiknya dibuka secara berkala dalam format yang mudah dibaca: jumlah yang diperiksa, kasus positif, tingkat pengobatan, keberhasilan terapi, dan kondisi hunian. Publik tidak perlu data pribadi, tetapi perlu tahu apakah intervensi berjalan efektif. Transparansi itulah yang membuat program kesehatan tidak berhenti di angka seremonial.

Sumber: Antara News.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...