Ye, rapper yang dulu dikenal sebagai Kanye West, akhirnya benar-benar manggung di Indonesia. Konser "YE Live in Jakarta" digelar Sabtu malam, 24 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan. Ini konser pertama Ye di Indonesia, dan Jakarta jadi satu-satunya kota Asia Tenggara di rangkaian Ye Live Concert Tour 2026. Sekitar pukul 21.00 WIB, Ye muncul di atas panggung berbentuk bola dunia dan langsung membuka konser dengan "King". Beberapa jam kemudian, ia menutupnya dengan "Runaway" yang dinyanyikan bareng satu stadion.
GBK Rasa Konser Luar Negeri
Gerbang dibuka sejak pukul 15.00 WIB. Pemegang tiket Superfans, Royal Suite, Royal Lounge, dan Sky Box masuk stadion mulai 17.00 WIB, sementara VIP, Festival, CAT 1 sampai 4, dan Land Lounge menyusul pukul 18.00 WIB. Menurut pantauan IDN Times, sekitar pukul 18.30 WIB kawasan SUGBK sudah ramai penonton mancanegara yang datang dengan outfit terbaik mereka. Sebagian dari mereka bahkan ikut bergabung dengan rombongan Saykoji yang berkeliling SUGBK sambil memainkan alat musik. Medcom juga melihat banyak penonton memakai kaus merchandise hitam bersablon merah bertuliskan "YE LIVE AT GBK STADIUM 24.10.2026".
Suasana internasionalnya memang terasa. Karen Tjahja, Marketing & Communications Lead Raw Vision Collective selaku promotor, menyebut ada 20.500 penonton dari luar negeri yang membeli tiket. "And I think ini dalam sejarah Indonesia pertama kali sebanyak ini untuk single show," katanya, seperti dikutip Kompas. Promotor juga memperkirakan lebih dari 30.000 pengunjung dari luar kota datang ke Jakarta selama pekan konser.
Salah satu alasannya sederhana: Jakarta jadi satu-satunya stop Ye Live di Asia Tenggara dan Oceania tahun ini, jadi banyak fan dari luar negeri yang memilih terbang ke Indonesia. Promotor bilang gelombang itu paling banyak dari Australia, Singapura, dan Malaysia, dan efeknya langsung terasa ke hotel, penerbangan, ojol, kuliner, mal, sampai UMKM di sekitar venue. Produksi konsernya sendiri juga melibatkan sekitar 5.000 tenaga kerja lokal.
Joey Smith dari Australia bilang ke detik bahwa ia terbang ke Jakarta karena Ye tidak menggelar tur ke Australia, jadi Jakarta adalah titik terdekat. Lagu favoritnya "Ghost Town". Medcom bertemu Odne dari Kepulauan Faroe, Denmark, yang kebetulan sedang backpacking di Indonesia dan memutuskan sekalian nonton. Sementara Joaquin dari Perth bilang ke ANTARA, "Tadi juga konsernya seru banget, lagu-lagu favoritku dinyanyikan, ada banyak kembang api, dan set panggungnya megah." Di tengah kerumunan, IDN Times juga melihat penonton membawa bendera negara asal mereka, termasuk Singapura, dan ada juga yang membawa bendera Palestina.
Dibuka "King" di Atas Bola Dunia
Bintang utama produksinya adalah Globe Stage, panggung kubah raksasa 360 derajat bergambar bola dunia yang berdiri di tengah stadion. Menurut promotor, panggung ini diterbangkan langsung dari luar negeri. Karena GBK lebih melebar dibanding SoFi Stadium di Los Angeles, tim Ye dan promotor juga menambah layar LED di sekitar Festival A dan CAT 1A supaya penonton dari semua sisi tetap bisa melihat Ye.
Begitu jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, lampu padam dan penonton yang tadinya duduk lesehan di festival langsung berdiri. Globe Stage pelan-pelan menyala, Ye muncul di atasnya, lalu tanpa basa-basi membawakan "King", lagu dari album terbarunya, "Bully".
Bumi, Bulan, Laser, dan Kembang Api
Yang paling ramai dibahas tentu visualnya. Menurut Kompas, kubah itu menampilkan bumi berputar dengan cahaya biru menyala, lalu berganti jadi gambar bulan hingga bulatan berwarna merah. Sindonews menulis panggung sempat berubah jadi permukaan bulan dengan Ye berdiri di atasnya.
IDN Times mencatat laser putih dan keunguan yang menembus kabut sepanjang konser. Saat "CARNIVAL" dimainkan, kembang api meledak bertubi-tubi. Momen lain yang bikin kepala muter, secara harfiah, datang di "Stronger": proyeksi di Globe Stage membuat panggung terlihat seperti berputar sangat cepat, padahal Ye tetap berdiri di atasnya.
Lagu-lagu yang Bikin GBK Nyanyi Bareng
ANTARA mencatat Ye membawakan kurang lebih 30 lagu. Setlist.fm, yang diisi oleh penggemar, bahkan mencatat 37 judul. Dari laporan media, deretannya antara lain "Father Stretch My Hands, Pt. 1", "Can't Tell Me Nothing", "On Sight", "Blood on the Leaves", "Power", "Bound 2", "Famous", dan "EVERYBODY". IDN Times mencatat penonton sing along saat "Heartless" dan "Homecoming", sementara saat "Father" dimainkan, tangan-tangan penonton melambai mengikuti irama.
Ada juga tamu. André Troutman naik ke panggung dan membawakan "All the Love" bareng Ye, lagu dari album "Bully" yang dirilis 28 Maret 2026. Menurut Medcom, penonton ikut bernyanyi. Dua hari sebelumnya, di konferensi pers 22 Oktober, André sudah memberi pesan: "Kalian harus bernyanyi dengan sangat keras, karena saya juga akan ikut berteriak lantang."
Minim Sapaan, dan Catatan Soal Suara
Satu hal yang ditulis hampir semua media: Ye nyaris tidak bicara. Kompas melaporkan ia tidak banyak berinteraksi dan tidak menyampaikan sapaan langsung ke penonton. Menurut IDN Times, Ye juga meninggalkan panggung tanpa sepatah kata, tapi musik masih menggema dan Globe Stage tetap menyala, jadi penonton tidak langsung bubar.
Catatan minusnya, IDN Times menyebut dari area festival vokal Ye dan musiknya terdengar kurang jelas, dan hal ini dirasakan juga oleh beberapa rekan media lain. Jadi kalau kamu nonton dari festival dan merasa suaranya kurang nendang, kamu tidak sendirian.
"Runaway" Jadi Penutup
Penutupnya jadi momen yang paling banyak ditunggu. Menurut Kompas, Ye sempat masuk ke dalam dome stage, lalu muncul lagi bersama pianonya dan memainkan nada pembuka "Runaway". Penonton langsung riuh dan ikut bernyanyi sampai lagu itu menggema di seluruh GBK.
Untuk pulang, MRT Jakarta memperpanjang jam operasional sampai pukul 01.30 WIB, dan ada shuttle bus dari Pintu 10 GBK ke Terminal Blok M pada pukul 23.00 sampai 01.30 WIB.
Di Balik Konser: Kontroversi dan Tur yang Tidak Selalu Mulus
Konser ini juga datang dengan latar belakang yang perlu kamu tahu. Menurut The Straits Times, Ye menuai kecaman luas dalam beberapa tahun terakhir atas komentar antisemit berulang dan pujiannya terhadap Adolf Hitler. Sepanjang 2026, beberapa rencana konsernya batal, termasuk di Inggris, Polandia, Swiss, dan dua show di St Petersburg. Pada Januari 2026, Ye memasang iklan permintaan maaf satu halaman penuh di The Wall Street Journal.
Promotor mengaku sudah mempelajari risikonya dan berdiskusi dengan tim Ye soal budaya serta sensitivitas lokal. The Straits Times mencatat memang ada kritik di media sosial, tapi tidak ada kampanye penolakan terorganisasi yang menonjol. Pengamanannya juga besar: lebih dari 2.000 personel dari promotor dan 1.547 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, TNI, dan Pemprov DKI.
Pada akhirnya, konser yang sempat diragukan bakal jadi ini benar-benar terjadi. Ye datang, nyaris tanpa bicara, membawakan puluhan lagu dari "King" sampai "Runaway", dan meninggalkan GBK dengan bola dunianya yang masih menyala.
Foto: konser YE Live in Jakarta di SUGBK, 24 Oktober 2026 — @darrxgh (X)