GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Laut Bercerita Ditonton 180 Ribu Orang di Hari Pertama, Ini Cerita di Balik Adegan Demo 500 Extras Tanpa HP
Lifestyle/Fashion

Laut Bercerita Ditonton 180 Ribu Orang di Hari Pertama, Ini Cerita di Balik Adegan Demo 500 Extras Tanpa HP

Mamen•

Kalau timeline kamu dua hari ini penuh orang yang keluar bioskop dengan mata sembap, kemungkinan besar mereka baru nonton Laut Bercerita. Film adaptasi novel Leila S. Chudori ini tayang serentak di bioskop Indonesia sejak Kamis, 29 Oktober 2026, dan langsung bikin kaget: menurut rilis resmi produser, 180.292 penonton datang di hari pertama, dari 514 bioskop dan 3.432 jam tayang.

Data pelacakan Cinepoint, yang menggabungkan angka rilis dan estimasi, mencatat sekitar 107 ribu penonton lagi di hari kedua (30 Oktober). Totalnya sekitar 288 ribu dalam dua hari, dan film ini ada di posisi pertama, di atas horor The Doll: Ghawiah. Buat film drama sejarah yang durasinya sekitar 2 jam 15 menit, itu start yang jarang terjadi.

Budi Setyarso, produser sekaligus direktur Pal 8 Pictures, mengaku terharu. "Kami sangat mengapresiasi antusiasme penonton dan sangat terharu atas sambutan yang begitu tinggi. Semoga, bersama-sama, kita terus merawat ingatan dan memelihara harapan untuk Indonesia yang lebih baik," katanya.

Ceritanya tentang apa?

Buat yang belum baca novelnya (terbit 2017), Laut Bercerita mengikuti Biru Laut (Reza Rahadian), mahasiswa Sastra Inggris UGM di Yogyakarta era 1990-an. Laut ikut kelompok diskusi mahasiswa Winatra yang dipimpin Kinan (Dian Sastrowardoyo), mulai melawan rezim, lalu diculik dan dihilangkan menjelang Reformasi 1998.

Separuh hati film ini ada di keluarga yang ditinggalkan: adiknya, Asmara Jati (Yunita Siregar), dan kedua orang tuanya yang diperankan Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara, yang terus mencari jawaban. Eva Celia, Kevin Julio, Yoga Pratama, sampai Ibnu Jamil juga ikut main. Film ini disutradarai Yosep Anggi Noen, dengan naskah yang ditulis Anggi bersama Leila sendiri.

Butuh sembilan tahun, lalu tayang perdana di Busan

Ternyata proyek ini sudah lama jalan. Tahun 2017 sudah ada film pendek Laut Bercerita berdurasi sekitar 30 menit garapan Pritagita Arianegara, dan Reza sudah jadi Laut di situ. Menurut produser Wisnu Darmawan, perjalanan menuju film panjangnya makan waktu sekitar sembilan tahun.

Pemutaran perdana dunianya juga bukan sembarang tempat. Pada 11 Oktober 2026, film ini diputar di kompetisi utama Busan International Film Festival ke-31 dengan judul internasional The Sea Speaks His Name, dan disambut tepuk tangan penonton. Anggi cerita, setelah pemutaran itu ia dapat DM dari orang Korea yang tidak ia kenal. Orang itu merasa tersentuh karena ceritanya mengingatkan dia pada gerakan mahasiswa Gwangju tahun 1980-an. Sebelum tayang reguler, film ini juga jadi penutup Jakarta Film Week pada 25 Oktober.

Adegan demo: 500 extras, hampir dua hari, tanpa HP

Bagian yang paling ribet dibuat adalah adegan demonstrasi mahasiswa. Kepada IDN Times, Anggi bilang timnya harus mengatur sekitar 400–500 extras supaya kerumunannya terlihat penuh di kamera. "Jadi penempatannya penting. Gak boleh ngumpul di depan semua," katanya. Syutingnya makan waktu hampir dua hari penuh, dan area pertokoan di Semarang disulap supaya mirip jalan protokol di Yogyakarta, mulai dari papan nama sampai tata jalannya.

Soal detail, tim ini cerewet banget. Pernah ada extras yang ketahuan pakai kaus terbitan 2025. "Kayaknya memang desain lama, tapi kelihatan macam baru," kata Anggi. Ada juga topi merek lama tapi logonya versi sekarang. Semua itu dicek supaya tidak ada barang zaman sekarang yang lolos ke frame. HP? Tidak boleh dibawa ke lokasi.

Masih ada yang lebih niat lagi. Untuk satu adegan di ladang jagung, tim produksi menanam jagungnya sendiri sekitar tiga bulan sebelum syuting, supaya tinggi tanamannya pas.

Kenapa mahasiswanya kelihatan "tua"?

Ini sempat jadi bahan omongan warganet: kok Reza dan kawan-kawan masih jadi mahasiswa? Ternyata itu disengaja. Kepada ANTARA, Anggi bilang ia memang ingin menampilkan mahasiswa zaman dulu yang wajahnya kelihatan dewasa. "Kayak kita kalau lihat foto-foto zaman lawas itu, misalnya bapak-ibu kalian waktu kuliah itu kan yang nonton, 'Lho, kuliah tuh kok kayak dosen?' gitu kan," katanya.

Aturan ini berlaku sampai ke extras. Anggi cerita, ada extras yang sebenarnya sudah jadi ibu dan punya anak, tapi di film tetap jadi mahasiswa.

Yunita dilarang nangis, dan empat piring di meja makan

Buat Yunita Siregar, tantangan terbesarnya justru menahan tangis. Asmara harus tetap tegar, padahal Yunita aslinya gampang terbawa perasaan. "Menurut aku nahan itu lebih susah karena rasa mau meledak, tapi aku nggak bisa keluarin," katanya kepada Grid. Kalau sudah tidak tahan, ia keluar dulu dari lokasi syuting untuk menuntaskan tangisnya.

Anggi sendiri merangkum rasa kehilangan di film ini lewat satu detail kecil. "Seperti Bapak Biru Laut yang selalu menyiapkan empat piring di meja makan, meskipun hanya tiga orang yang duduk di sana. Ada kehilangan yang hadir dalam kebiasaan sehari-hari, dan itulah yang ingin saya sampaikan melalui film ini," ujarnya.

OST-nya dari Efek Rumah Kaca

Soundtrack utamanya, "Matilah Kau Mati", dibawakan Efek Rumah Kaca bersama Knogg dan sudah rilis sejak 31 Juli 2026. Liriknya diadaptasi dari puisi "Di Hari Kematianku" di novel, ditulis bersama oleh Leila dan Cholil. Lagu ini juga memakai larik penyair Sutardji Calzoum Bachri, "Matilah kau mati / kau akan lahir berkali-kali", yang berkali-kali diucapkan Laut di novelnya. Video musiknya disutradarai Khozy Rizal.

Perlu baca novelnya dulu?

Tidak harus. Review IDN Times bilang filmnya tetap bisa dinikmati tanpa baca novel, walaupun babak awalnya terasa agak terpotong-potong. Reza malah menyarankan urutan sebaliknya: "Laut mungkin bisa menjadi jembatan mereka untuk menggali lebih dalam, baru kemudian membaca bukunya. Jadi nonton dulu filmnya."

Per 30 Oktober, skornya juga lumayan: 8,4 di Cinepoint Flash, 7,8 di IMDb, dan 3,5 di Letterboxd. Kata Reza, ceritanya juga masih relevan: "Sampai saat ini kita masih punya beberapa keluarga yang masih menunggu sudah puluhan tahun. Masih ada Kamisan. Itu tidak berhenti sampai hari ini."

Kalau mau nonton malam minggu ini, bawa tisu. Pulangnya, coba tanya orang tua kamu: tahun 1998 mereka lagi di mana?

Foto: Yosep Anggi Noen, Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Gita Fara, Reza Rahadian, dan Budi Setyarso di Busan International Film Festival 2026, oleh 1treeinaforest (Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...